Minggu, 15 Mei 2011

Seluk Beluk Dunia Arsitektur


Siapa yang tak tau menara eiffel? Atau candi borobudur?
Sebagian dari kita mungkin telah melihatnya di televisi. Sebagian lagi mungkin pernah mengunjunginya. Sekarang dapatkah anda menebak persamaan dari kedua mahakarya tersebut?
Ya,  memang keduanya tidak muncul begitu saja dari dalam tanah, atau jatuh begitu saja dari langit. Baik menara eiffel  ataupun candi borobudur, sama-sama dirancang dan dibangun oleh manusia. Dan istilah bagi perancang itu ialah Arsitek.

Kata "arsitek" mungkin akan terdengar cukup keren. Level "keren" ini pun akan semakin meningkat seiring dengan semakin dalamnya pemahaman kita mengenai dunia arsitektur.
Sebelumnya kita bahas dulu mengenai perbedaan dari kata arsitek dengan kata arsitektur. Banyak orang yang mengira bahwa kedua
Kata tersebut memiliki arti yang sama, padahal tidak demikian sekalipun keduanya merujuk ke bidang yang sama.
Arsitek adalah sebutan bagi orang yang bekerja pada bidang arsitektur. Arsitektur sendiri berarti seni atau ilmu dalam merancang bangunan. Dengan kata lain, arsitek adalah orangnya sedangkan arsitektur adalah bidang pekerjaanya.

Berbicara tentang arsitektur, kenyataanya adalah tak lepas kata rumit, ribet atau bahkan sulit. Berbeda dengan profesi lain yang kurang lebih hanya menuntun kecakapan untuk mempelajari sesuatu yang telah terkonsep, para  arsitek di haruskan untuk menciptakan sesuatu yang baru. 

Seorang calon arsitek di tuntut untuk terus melahirkan ide-ide, dan  Ide, bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dipetik dari pohon. Ide yang arsitek ciptakan haruslah merupakan  suatu penyelesaian dari masalah yang ada. Dari semua ide yang terkumpul, baru nantinya  akan di buat suatu keputusan besar dengan  tanggung jawab penuh dari sang arsitek. 

Arsitek bukan sekedar "tukang gambar" pekerjaan ini lebih dari itu. Tujuan arsitek adalah 'menciptakan" bangunan yang berguna dan indah.

Terus terang saja, tak semua orang mampu untuk menjadi seorang arsitek. Mulai dari permasalahan materi, mental, fisik, serta  Kepribadian. Jangankan jadi arsiteknya, kehidupan perkuliahanya saja kalau menurut saya sudah terbilang sulit. Di dunia Arsitekturlah saya belajar apa itu cepat karena disipln, cepat yang efisien,dan betapa benar-benar buruknya dampak dari sifat Menunda-nunda pekerjaan. 

Tanpa ada maksud sama sekali untuk melebih-lebihkan dan memojokan jurusan perkuliahan lain. Memang itulah adanya. Salah Seorang teman seperjuangan saya saja, yang di awal tekad begitu menggebu-gebu pada akhirnya memilih untuk mundur karena permasalahan yang saya sebutkan tadi.

Kita semua ingin menjadi arsitek dengan suatu impian yang dapat terwujud dan tidak. Tidak ada satu orang pun yang berhak  mengatakan bahwa mengejar impian adalah percuma. Terbukti, dengan keyakinan dan ketabahan serta usaha yang tidak Henti-hentinya, sebuah mimpi akan terwujud. Seth godin dalam bukunya bercerita bahwa banyak peserta lomba marathon menyerah di kilometer tengah menuju akhir. Bukan karena tidak kuat, tetapi karena tidak bisa melihat garis finishnya.

Ibarat dua sisi koin atau sebagaimana sebuah puzzel, bagi sebagian orang kerumitan itulah yang justru menjadi daya tarik di dunia arsitek. Sahabat saya sendiri yang pada awal perkuliahan merasa bosan dan jenuh, kini malah mengaku telah jatuh cinta pada dunia arsitektur. Nilai plus lain dari pendidikan di bidang arsitektur adalah memberikan landasan yang kukuh dalam menganalisis dan kemampuan memanajemen pekerjaan yang lebih baik daripada disiplin ilmu lain.


Bagaimana, apa anda sudah paham, betapa keren-nya profesi ini?

Selasa, 22 Maret 2011

Arsitektur

(Menurut Wikipedia)

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.
Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.
Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.
Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.
Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.
Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.
Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.
Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.
Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.
Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.

Bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu.

Senin, 21 Maret 2011

Pembukaan

Bismillahirrahmairrahim...

Alhamdulillah, akhirnya saya putuskan untuk membuat blog yang baru saja. Ini dikarenakan saya lupa password yang lama. hehehe maklum, belakangan saya kurang eksis....

semoga dengan hadirnya yang baru ini, akan membuat saya makin produktif...

Amiin.....