Siapa yang tak tau menara eiffel? Atau candi borobudur?
Sebagian dari kita mungkin telah melihatnya di televisi. Sebagian lagi mungkin pernah mengunjunginya. Sekarang dapatkah anda menebak persamaan dari kedua mahakarya tersebut?
Ya, memang keduanya tidak muncul begitu saja dari dalam tanah, atau jatuh begitu saja dari langit. Baik menara eiffel ataupun candi borobudur, sama-sama dirancang dan dibangun oleh manusia. Dan istilah bagi perancang itu ialah Arsitek.
Kata "arsitek" mungkin akan terdengar cukup keren. Level "keren" ini pun akan semakin meningkat seiring dengan semakin dalamnya pemahaman kita mengenai dunia arsitektur.
Sebelumnya kita bahas dulu mengenai perbedaan dari kata arsitek dengan kata arsitektur. Banyak orang yang mengira bahwa kedua
Kata tersebut memiliki arti yang sama, padahal tidak demikian sekalipun keduanya merujuk ke bidang yang sama.
Arsitek adalah sebutan bagi orang yang bekerja pada bidang arsitektur. Arsitektur sendiri berarti seni atau ilmu dalam merancang bangunan. Dengan kata lain, arsitek adalah orangnya sedangkan arsitektur adalah bidang pekerjaanya.
Berbicara tentang arsitektur, kenyataanya adalah tak lepas kata rumit, ribet atau bahkan sulit. Berbeda dengan profesi lain yang kurang lebih hanya menuntun kecakapan untuk mempelajari sesuatu yang telah terkonsep, para arsitek di haruskan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Seorang calon arsitek di tuntut untuk terus melahirkan ide-ide, dan Ide, bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dipetik dari pohon. Ide yang arsitek ciptakan haruslah merupakan suatu penyelesaian dari masalah yang ada. Dari semua ide yang terkumpul, baru nantinya akan di buat suatu keputusan besar dengan tanggung jawab penuh dari sang arsitek.
Arsitek bukan sekedar "tukang gambar" pekerjaan ini lebih dari itu. Tujuan arsitek adalah 'menciptakan" bangunan yang berguna dan indah.
Terus terang saja, tak semua orang mampu untuk menjadi seorang arsitek. Mulai dari permasalahan materi, mental, fisik, serta Kepribadian. Jangankan jadi arsiteknya, kehidupan perkuliahanya saja kalau menurut saya sudah terbilang sulit. Di dunia Arsitekturlah saya belajar apa itu cepat karena disipln, cepat yang efisien,dan betapa benar-benar buruknya dampak dari sifat Menunda-nunda pekerjaan.
Tanpa ada maksud sama sekali untuk melebih-lebihkan dan memojokan jurusan perkuliahan lain. Memang itulah adanya. Salah Seorang teman seperjuangan saya saja, yang di awal tekad begitu menggebu-gebu pada akhirnya memilih untuk mundur karena permasalahan yang saya sebutkan tadi.
Kita semua ingin menjadi arsitek dengan suatu impian yang dapat terwujud dan tidak. Tidak ada satu orang pun yang berhak mengatakan bahwa mengejar impian adalah percuma. Terbukti, dengan keyakinan dan ketabahan serta usaha yang tidak Henti-hentinya, sebuah mimpi akan terwujud. Seth godin dalam bukunya bercerita bahwa banyak peserta lomba marathon menyerah di kilometer tengah menuju akhir. Bukan karena tidak kuat, tetapi karena tidak bisa melihat garis finishnya.
Ibarat dua sisi koin atau sebagaimana sebuah puzzel, bagi sebagian orang kerumitan itulah yang justru menjadi daya tarik di dunia arsitek. Sahabat saya sendiri yang pada awal perkuliahan merasa bosan dan jenuh, kini malah mengaku telah jatuh cinta pada dunia arsitektur. Nilai plus lain dari pendidikan di bidang arsitektur adalah memberikan landasan yang kukuh dalam menganalisis dan kemampuan memanajemen pekerjaan yang lebih baik daripada disiplin ilmu lain.
Bagaimana, apa anda sudah paham, betapa keren-nya profesi ini?
BalasHapusI'm really enjoying the design and layout of your website.
Qassim & QU